Tukang nyosor…

Jadi pengendara di Indonesia (apapun itu, mau motor atau mobil) rasanya tidak akan pernah lepas dari para tukang nyosor. Mau dari samping, belakang atau sekalian dari atas. Ga percaya? Tuh, lihat aja di bawah ini. Mobil kok nyelonong  masuk ke area merah punya motor? Ga sekalian lewat zebracross? Atau lewat lampu merahnya sekalian.

13316823_10208362507493383_699577544203802621_o 13320391_10208347939929203_2201724077791132973_o 13321690_10208362507533384_6724662465425546816_n

Dibuang sayang, Abdimas kemarin

Daripada disimpan di harddisk terus, mending diupload. Ya meski cuma sedikit.

 

IMG_20160526_142859 IMG_20160526_143158 IMG_20160526_150740

Dilema menyusun Materi Kuliah

Berhubung ini mau masuk kurikulum baru dan sebentar lagi orang-orang pada mudik, saya dan teman-teman di kantor harus menyusun materi perkuliahan untuk semester depan. Maklum, semester depan kami akan memakai kurikulum baru, jadi beberapa mata kuliah harus dirumuskan dari awal kontennya.

Karena ini berurusan dengan pemrograman, jadi saya agak bingung dan dilema untuk menentukan materi apa saja yang harus masuk ke dalam perkuliahan. Mata kuliah yang kebetulan saya susun adalah tentang pemrograman yang dasar/basicNah, untuk basic  ini saya harus memasukan apa sih selain perkenalan bahasa pemrogramannya? Security? Performance tweaking? Atau ada yang punya ide yang lain? Hehehe

Jebakan job vacancy

Setelah acara wisuda, para fresh graduate akan memilih setidaknya 2 jalan hidup. Pertama bekerja dan yang kedua adalah melanjutkan studi. Untuk yang cewek, mungkin ada pilihan untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga full time. Mereka yang memilih bekerja ini bisa bekerja sendiri/freelance, ada yang melanjutkan usaha orang tuanya dan ada yang harus berjibaku mencari kerja. Golongan yang terakhir ini akan sering berurusan dengan job fair baik di kampus sendiri maupun kampus orang dan situs pencari kerja.

Nah, di sinilah perlu hati-hati. Kadang, sebuah perusahaan suka membuat lamaran yang kesannya membutuhkan  hard skill yang tinggi. Contohnya di bawah ini. Saya dapat gambar ini dari grup FB Asosiasi Programer Indonesia (Asprogsi).  Kalau dibaca komentar-komentarnya, ketemu beberapa yang lucu. Contohnya ada yang bilang kerjanya cuma benerin kabel dan mesin presensi. Ngakunya sih, mereka dijebak sama HRD. Itu belum lagi soal gaji. Hehehe..

Padahal kalau mau dapat yang seperti itu sih gajinya saya taksir mendekati dua digit. Kok tinggi amat!!!??? Ya iyalah, wong mesti bisa ini itu, ya tanggung jawabnya ya mesti banyak.

Job Vacancy

Dari postingan  seperti itu, saya menyimpulkan kalau pemberi pekerjaan, entah itu HRD, Top Management dan pihak-pihak terkait tidak paham apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh perusahaannya. Mungkin dalam pikirannya mereka bisa dapat spek orang yang bisa semuanya (all rounder) tapi dengan bayaran seadanya. Nanti skillnya yang belum terpakai mungkin bisa dimanffatkan lain waktu kalau perlu. Kalau bisa nanti merangkap office boy sekalian.

Beberapa job hunter biasanya sudah punya perusahaan tujuan. Beberapa lagi ada yang pokoknya asal lamar aja yang penting sesuai bidang. Beberapa lagi ada yang pokoknya dapat kerja, ga perduli kerjanya bidang apa, yang penting halal. Dua terakhir ini yang bermasalah.

Seharusnya, sebelum mengajukan lamaran pekerjaan, pelajari dulu semua yang terkait tentang perusahaan, dari latar belakang, bdang perusahaan dsb. Dengan melakukan hal itu, minimal, kita bisa mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan ketika bekerja di perusahaan tersebut.

Nah, para mahasiswa, khususnya yang mau wisuda, selamat menyiapkan diri jadi job hunter. Semoga dengan baca ini, jangan kemakan jebakan Batman dari HRD. Hehehe..

Seperti Nonton Opera

Nah, akhirnya bisa posting lagi. Yah, meskipun sebenarnya malas.. 

IMG_20160611_192253

Nah, kebetulan kemarin saya bisa dapat kesempatan nonton 5th symposium on church choral music 2016. Jadi itu isinya tentang paduan suara gerejawi. Event ini dari tanggal 9-12 Juni 2016 kemarin. Saya cuma nonton yang tanggal 11 dan 12nya saja. Yang tanggal 11 di Main Hall Kampus Maranatha Bandung, yang tangga 12nya di katedral Santo Petrus Merderka Bandung. Penampilnya (penampil ya, bukan peserta) dari Gereja dan juga ada dari paduan suara Universitas. Karena ini event internasional, penampilnya ada yang dari Harvard University dan Paul Phoenix dariCambridge, UK. Untuk para gamer jangan disamakan dengan Paul Phoenix di game Tekken. Jelas beda. Hehehe. Untuk Paul Phoenix yang saya maksud bisa dibaca di sini.

Acara Symposiumnya cukup direkomendasikan. Kalau saya biasanya dengar lagu yang rock n’ roll atau yang ngebeat, nonton acara ini seperti mencoba hobi baru. Beberapa penampil terkesan rata-rata dan bahkan kaku, beberapa lagi sangat outstanding. Yang paling berkesan buat saya adalah penampil dari Unima Manado, Cantorium Studio dan Paul Phoenix. Penampil dari Unima menampilkan lagu gerejawi dan lagi daerah khas Minahasa Si Patokaan. Uniknya mereka adalah, mereka tidak menggunakan alat musik dalam membawakan lagu, tapi membuat suara mereka menyerupai suara alat musik. Heheheh unik deh pokoknya.

IMG_20160612_204116

Kalau Cantorium Studio mereka cukup bagus. Penampilan terakhirnya yang paling saya suka. Kalau sebelumnya mereka bawa lagu gereja yang genrenya hymn, di dua lagu terakhirnya mereka menggunakan koreografi. Lagu yang paling terakhir ini menggunakan koreografi mirip broadway ala New York. Namanya kalau konser pakai koreografi lebih membuat lirik lagunya serasa hidup, apalagi kalau konser paduan suara.

IMG_20160611_202947

Ada juga Inggou Victory Children Voice PematangSiantar. Anggotanya isinya anak-anak semua. Kira-kira umur belasan. Hampir semua anggotanya anak perempuan, anak lakinya cuma satu. Yang unik dari penampilan mereka, mereka mengajak penonton untuk bersama-sama menyanyi. Tapi mereka jadi penyanyi pengiringnya (backing vocal, red), bukan penyanyi utamanya.  Untuk seukuran anak-anak bisa bernyanyi setara internasional, keren..!!!

IMG_20160612_194849

 

Nah, yang terakhir ini yang paling bikin saya errr, gimana yah, terbawa suasana. Paul Phoenix dari The King’s Singer cuma membawakan 3 lagu, tapi cukup untuk membawa atmosfer teduh. Apalagi yang hari penampilan terakhir ini panggungnya di dalam katedral, jadi suasana teduh nan gerejawinya sangat kerasa. Lagu terakhirnya berjudul Lord’s Prayer (kalau tidak salah, red) ini yang paling bikin saya senang. Paul tidak hanya berdiri di panggung, tapi berjalan ke tempat duduk penonton sambil benyanyi. Sungguh, seperti Opera.  Kalau dilihat dari dekat, Paul seperti tidak seperti sedang bernyanyi, tapi berdoa. Penghayatan lagunya betul-betul luar biasa, sampai terasa oleh penontonnya.

 

IMG_20160612_200623  IMG_20160612_200909

Nah, sepertinya pas hari itu saya sedang beruntung, jadi saya bisa kesampaian untuk foto dengan Om Paul. Hehehe. Di luar dugaan, orangnya ramah dan humoris lho. Waktu saya antri duluan untuk minta foto dan tiba-tiba ada yang nyosor minta foto, eh malah saya dan pacar saya yang dipanggil untuk foto. Katanya, saya udah antri duluan. Hihihi, thx Mr. Paul.

IMG_20160612_212312

Nah, sepertinya saya jadi mulai suka dengan konser klasikal mirip opera kayak gini. Kayaknya, ambil aja tawaran S3 di UK. Gimana? 🙂

Hello world!

Khusus postingan ini saya edit. Maksudnya sih, supaya jangan mainstream  dengan kata-kata “Welcome to bla bla bla…”.

Seperti halnya ketika mencoba bahasa pemrograman baru, blog saya ini juga harus mengucapkan salam perkenalan. Sebenarnya sih saya sudah punya blog pribadid sini, tapi karena dari kampus maunya setiap dosen harus punya blog dari domain kampus, ya sudah saya bikin blog ini. Masih harus mikir gimana caranya postingan dari blog pribadi saya tersambung dengan blog yang ini. Entah pakai OpenID atau gimana, nanti aja itu dipikir. Jarang pakai wordpress sih.

Nah, sekarang mumpung kerjaan saya masih numpuk, ya saya kerjain dulu deh. Maklum, waktu sakit tipes kemarin banyak kerjaan ditunda dulu. Cerita-cerita lain nanti deh baru saya tulis.